Saturday, October 4, 2014

Penuhi Kewajiban,Ranting Muhammadiyah Desa Wates, Jenangan Menyembelih Hewan Qurban Satu Ekor Sapi.

Ketua Ranting Muhammadiyah Pada waktu Khutbah
Berita Ponorogo,www.jejakkasus.info.
Upaya untuk memenuhi kewajiban Umat Islam yang sudah memenuhi syarat wajib untuk melakukan Ibadah Kurban menurut hokum Agama Islam, Ranting Muhammadiyah Desa Wates Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo, melaksanakan qurban sapi sebanyak 1 ekor, pada moment Idul Adha 1435 H, yang dilaksanakan di halaman Masjid Alhidayah, Sabtu (04/10/214) kemarin.
Sebelum diadakanya penyembelihan korban,Ketua Ranting Muhammadiyah Wates Pikir Dwi Sutanto dalam khutbahnya menyampaikan,”Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sholawat dan salam semoga Terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka hingga kiamat tiba. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Alloh.”terangnya.
“Sebaik-baik ucapan adalah Kalam Allah, dan sebaik-baik bimbingan adalah bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan di dalam agama. Karena setiap perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.
Dengan memuji syukur kepada Allah, Ranting Muhammadiyah Desa Wates Kecamatan Jenangan, Ponorogo, dapat menunaikan amanah yang telah diberikan oleh Alloh SWT, untuk menyelenggarakan kegiatan Penyembelihan & Penyaluran Hewan Kurban Idhul Adha 1430 H. dengan baik dan lanca,”tegasnya.
Dalam rangka memperoleh hewan qurban yang akan disalurkan, Muhammadiyah Ranting Wates itu berkat kerja keras bersama antara Ketua Ranting Pikir Dwi Sutanto,Suwanto,Sareh,Jarminto,Rika Dian Rama Ningrum,Parti, upaya mereka sempat mengundang berbagai pihak untuk menjadi panitia qurban, Respon yang luar biasa dari berbagai pihak khususnya Masyarakat Desa Wates Kecamatan Jenangan, Ponorogo.
Oleh sebab itu kami sangat berterima kasih kepada Masyarakat Desa Wates pada umumnya serta para Panitia yang secara ihklas membantu kami menjalankan Ibadah kurban yang kami adakan. Semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka dengan sebaik-baiknya,(Adv/Rep/Ham).



MAKNA DAN TUJUAN KURBAN DI HARI RAYA IDHUL ADHA Hari Raya Idhul Adha merupakan hari besar umat Islam di seluruh dunia dimana pada hari tersebut didalamnya terdapat suatu kegiatan yakni penyembelihan hewan ternak (Kurban) dengan tujuan mendapatkan ridho Allah Swt. Sedangkan penyembelihan hewan ternak (kurban) secara etimologi berasal dari kata bahasa Arab, yakni Qaraba, Yaqrabu, Quban wa qurbanan wa qirbanan yang meliki arti dekat. Jadi, kurban berarti mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Kurban dalam pengertian kita sehari-hari sebenarnya diambil dari kata udhhiyah yakni bentuk jama’ dari kata ”dhahiyyah” yaitu sembelihan pada waktu dhuha tanggal 10 sampai dengan 13 Dzulhijjah. Dari sinilah muncul istilah ”Idul Adha”. Dengan demikian yang dimaksud dengan kurban atau udhhiyah adalah penyembelihan hewan dengan tujuan beribadah kepada Allah pada hari raya Idul Adha dan tiga hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
Dalam sejarahnya, kurban menurut firman Allah SWT dalam Q.S. Al Maidah : 27
”Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Al Maidah [5]: 27). Dalam kandungan ayat ini bahwa dalam berkurban dibutuhkan keikhlasan dan persembahan kepada Allah dan ketaqwaan kita kepada-Nya. Seperti, dikisahkan pada era nabi Adam a.s., kurban sudah diperkenalkan. Beliau mendapat perintah dari Allah agar kedua anaknya melakukan kurban. Caranya dengan ”mempersembahkan” hasil bumi dan hewan ternak. Kedua anaknya, Qobil dan Habil segera memenuhi perintah tersebut. Habil yang peternak, dengan sepenuh hati berkurban untuk mencari ridha Allah dengan menyiapkan hewan terbaiknya untuk kurban. Sebaliknya, Qabil, yang petani, melaksanakan perintah tersebut dengan tidak ikhlas karena Allah, ia merasa terpaksa. Ia berkurban dengan buah-buahan yang busuk yang ia sendiri tidak menyukainya. Kurban Habil diterima oleh Allah sedangkan kurban Qabil ditolak. Kisah tersebut dapat dijadikan suri tauladan yang baik bagi kita semua.

Adapun makna kurban adalah sebagai berikut :

1. Merupakan pencerah jiwa karena dengan berkurban berarti jiwa kita terhubung dengan ketaqwaan kepada Allah SWT;
2. Dapat memupuk keikhlasan, kejujuran dan kesabaran yang membimbing kita mencintai Allah dan akhirnya juga mencintai makhluk ciptaanNya.
3. Mempererat tali persaudaraan kepada sesama manusia serta sikap solidaritas yang tinggi; dan
4. Memperkuat keteguhan hati dan jiwa dalam diri kita.

Semua makna kurban di atas harus dicermati dan diperhatikan baik-baik karena sungguh berkurban berarti pendekatan kita kepada Allah SWT. Sikap iman dan taqwa juga meliputi itu semua. Kesadaran dalam jiwa yang menumbuhkan sikap iman dan taqwa dalam diri kita dengan makna-makna tersebut.

Berat sekali ujian keimanan pada era global seperti sekarang ini. Idealisme sulit ditemukan dan pragmatisme menjadi fenomena sehari-hari. Merosotnya nilai-nilai ideal tidak saja dalam dunia bisnis tetapi juga dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kalau dalam masyarakat, orang yang dipandang dan dihormati adalah mereka yang memiliki kekayaan berlebih, maka korupsi akan tumbuh subur. Suara dan jeritan kaum fakir miskin dan rakyat jelata sudah tidak lagi diperhatikan. Tangisan bayi dan orang tua yang hidup sengsara sudah tidak terdengar lagi. Dan jika para pemimpin bangsa (eksekutif, legislatif dan yudikatif) sudah berlomba-lomba memamerkan kekayaan dan kewewahan maka tunggullah azab Allah yang terus datang silih berganti.

Hidup di dunia merupakan rangkaian siklus kehidupan manusia yang panjang yang bermula dari Allah (alam azali), lahir di dunia, meninggal dan berada di alam kubur, dibangkitkan kembali dan perhitungan amal baik serta jahat, kemudian hidup di akhirat, surga atau neraka. Ibadah haji dan kurban sekali lagi mengingatkan kita terhadap kehidupan masa lalu ( Adam, Qabil, Habil, Ibrahim, Sarah, Ismail) bagaimana mereka berjuang dan berkurban untuk mendapatkan ridla Allah. Ibadah tersebut juga mengokohkan semangat kita untuk merenungkan apa arti kurban dan ibadah haji pada masa kini. Haji dan kurban adalah syariat untuk pensucian jiwa, membersihkan kotoran yang ada pada hati kita, sifat-sifat ananiyah atau egoisme dibersihkan melalui ibadah haji dan menyembelih kurban. Kita tebar kepedulian sosial kita kepada sesama umat manusia melalui penyebarluasan daging kurban, dan persahabatan abadi kita jalin antar sesama muslim se dunia melalui ibadah haji.

Tidak kalah penting tujuan kurban adalah untuk menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas sosial dengan sesama kaum muslimin sehingga diharapkan dapat menjembatani kesenjangan sosial antara yang mampu dengan tidak mampu, apalagi dalam kondisi krisis ekonomi yang berkepanjangan seperti sekarang, ditambah pula konflik yang terjadi di masyarakat seperti peperangan antara umat Kristen dengan umat Islam di Ambon dan Maluku yang amat memerlukan bantuan kita sebagai sesama muslim. serta ntuk menguji apa dan siapa dan sebenarnya yang menjadi orientasi atau tujuan hidup manusia, apakah harta atau kecintaan kepada anak dibanding dengan kecintaan kepada Allah?

0 comments: