Monday, November 10, 2014

Biro Jejak Kasus Banyuwangi Telusuri Asal usul Situs Umpak Songo Muncar



Banyuwangi, www.jejakkasus.info- Banyuwangi adalah sebuah kota yang berada di ujung paling timur di Jawa Timur dan merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur, memiliki 24 kecamatan, Wilayahnya cukup terdiri dari dataran tinggi dan dataran rendah.
Dan Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki banyak kebudayaan dan peninggalan bersejarah. Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, lokal, maupun kebudayaan asing yang telah ada di Indonesia. Kebudayaan bangsa merupakan kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak di seluruh daerah Indonesia. Sedangkan kebudayaan nasional sendiri ialah segala sesuatu yang khas dan bermutu dari suku bangsa yang bias mengidentifikasikan diri serta menimbulkan rasa bangga. Kebudayaan nasional dipahami sebagai kebudayaan bangsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari bangsa Indonesia yang sudah sadar dan mengalami persebaran secara nasional. Kebudayaan dan peninggalan bersejarah tersebut memiliki bermacam-macam karakteristik sesuai dengan tempat asalnya. Misalnya di daerah Banyuwangi, Jawa Timur.
Banyak sekali obyek wisata yang ditemukan di Banyuwangi, mulai dari obyek wisata yang berada di pegunungan yaitu Margo Utomo (Kalibaru), Ijen, Kalibendo (Glagah), dll. Untuk obyek wisata yang bernuansa pantai kita dapat menemukan di Bedul(purwoharjo), pantai Grajagan (Purwoharjo), Watu Dodol (Kalipuro). Tak kala lupa wisata edukasi antara lain situs Rawa Bayu(Songgon), situs Macan Putih(Kabat), serta situs Umpak Songo di daerah Muncar tepatnya di Desa Tembokrejo
Umpak songo adalah tumpukan batu berlubang mirip penyangga tiang bangunan yang berjumlah Sembilan. Umpak berarti tangga dan Songo berarti Sembilan. Situs ini ditemukan pada tahun 1916 oleh Mbah Nadi Gede, warga dari Bantul, Jogjakarta. Umpak Songo merupakan sisa peninggalan kebudayaan agama hindu pada saat itu. Situs ini ditemukan pada tahun 1916 oleh Mbah Nadi Gede, warga dari Bantul, Jogjakarta.
Umpak Songo pertama ditemukan kondisinya sudah tertimbun tanah di hutan belantara. Begitu digali, ternyata mirip sebuah candi. Diyakini, Umpak Songo dahulunya adalah balai pertemuan bagi raja Blambangan bersama bawahannya. Tahun 1938, seorang raja dari Solo, Mangku Bumi IX, mengunjungi tempat itu. Kemudian, tempat ini diberi nama Umpak Songo. Mangku Bumi sempat mengisahkan lokasi itu adalah bekas peninggalan kerajaan Blambangan dengan rajanya Minak Jinggo.
Puncak keramaian Umpak Songo adalah hari raya Kuningan. Umat Hindu selalu antre bersembahyang di tempat ini. Hari biasa pun sejumlah pemedek dari Bali juga banyak mengalir. Situs Umpak Songo hanya berjarak satu kilometer arah timur Pura Agung Blambangan, pura terbesar di Banyuwangi. Di sekitar Umpak Songo banyak ditemukan saksi sejarah kebesaran Blambangan. Ada gumuk sepur, bukit yang memanjang. Konon ini adalah benteng raksasa kerajaan Blambangan. Akibat kurangnya pemahaman masyarakat, gumuk sepur dihancurkan dan lokasinya dijadikan lahan pertanian.
Tak jauh dari Umpak Songo, ada Umpak Lima. Konon, tempat ini adalah ruangan semadi raja-raja Blambangan. Bangunan ini kini sudah musnah. Warga meratakannya dengan tanah, lalu dibangun sebuah mushola. Warga yang bertempat tinggal di sekitar situs Umpak Songo adalah keluarga besar. Jumlahnya 20 KK. Mereka keturunan Mbah Nadi Gde. Saat ini hanya tinggal Umpak Songo yang masih terlihat bentuknya. Itu pun kondisinya sudah memprihatinkan. Sejumlah batu dan benda-benda sejarah lainnya sudah hilang. Meski sudah masuk cagar budaya, perhatian terhadap Umpak Songo, minim. Baru tahun 2008, Pemkab Banyuwangi membuat tembok keliling di sekitar lokasi meskipun Umpak Songo juga masih berstatus lahan milik pribadi. (Gusmemed).

0 comments: